Parodi Prie GS.

Showing posts with label Parodi Prie GS.. Show all posts
Showing posts with label Parodi Prie GS.. Show all posts

Jejak Maaf 0 comments


Banyak maaf diminta, banyak maaf diberikan tetapi kesalahan terus bermunculan. Stok maaf memang besar sekali, tetapi jumlah kesalahan juga besar sekali. Komposisi ini bisa membingungkan karena bisa menimbulkan aneka spekulasi.

Pertama, karena selalu tersedia maaf, maka mudahlah kita membuat kesalahan. Jadi wajar. Kedua, karena selalu ada maaf bagi setiap kesalahan, wajar jika maaf menjadi banyak sekali karena kesalahan juga banyak sekali. Jadi, wajar lagi. Ketiga, banyak maaf memang harus berdampingan dengan banyak kesalahan itulah yang disebut keseimbangan. Lagi-lagi ini juga wajar. Akhirnya, kesalahan bisa jadi harus dianggap sebagai kewajaran. Atau jangan-jangan pewajaran semacam itu, hari ini sudah terjadi.

Lihatlah ular-ularan permintaan maaf terutama menjelang lebaran itu. Ia sudah mulai bahkan sebelum bulan puasa benar-benar tiba. Aneka SMS sudah berlalu lalang siap menyambut puasa sambil meminta maaf atas semua kesalahan. SMS ini tambah gencar memasuki seminggu sebelum lebaran. Ada yang mengaku harus berkirim ucapan jauh-jauh hari demi untuk menghindari kepadatan sinyal dan kemacetan provider. Berkirim SMS saja mana cukup jika tidak bersalaman di puncak perayaan yakni pagi hari, rampung Salat Ied di masjid dan lapangan.

Begitu katib menutup dengan salam jamaah mulai gaduh saling -silang bermaafaan. Begitu bersemangat maaf-memaafan itu sampai enak saja meninggalkan koran bekas di lapangan. Lautan koran bekas adalah pemandangan yang selalu khas di setiap Salat Ied dirampungkan. Tapi sudahlah, korupsi saja bisa dimaafkan apalagi ini cuma sekadar koran.

Karena mana afdol bersalaman jika cuma ketemu di lapangan. Yang tua-tua harus menunggu di rumah untuk menunggu yang muda datang. Yang muda harus sowan yang tua karena itu penghormatan. Yang atasan harus bersiaga karena bawahan pasti datang. Yang petinggi harus open house karena pasti banyak pihak ingin bersalaman. Ini baru lebaran hari pertama. Hari kedua, ketiga dan seterusnya sudah menunggu acara halal bihalal di berbagai segmen dan kesempatan.

Mulai dari kampung sendiri, kantor sendiri sampai organiasi itu dan ini. Satu pribadi bisa ada di empat lima organisasi tergantung posisi. Di luar pribadi ia adalah juga anggota paguyuban keluarga besar, warga di sebuah kawasan, pegawai di sebuah departemen dan angota komunitas ini itu.

Jadi budaya memintaa maaf itu luar biasa besar di Indoensia. Lautan maaf tesedia di negeri ini. Inilah kenapa koruptor saja diusulkan dimaafkan jika mau mengembalikan hasil jarahan. Tindakan penjarahan itu sendiri tidak penting karena yang penting adalah mengamankan barang jarahan. Sementara pembawa narkoba diancam hukuman mati, pemakainya harus diampuni dan cukup dikirim ke pusat rehabilitasi karena sebutannya adalah korban. Inilah hukum yang memandang rendah pemakai dan memandang tinggi pembawa. Semua kesalahan itu menjadi mudah mengalami proses pewajaran karena telah disediakan cukup banyak stok pembenaran.

Kita sambut gembira budaya maaf memaafkan ini sambil menyisakan pertanyaan:

"adakah jumlah maaf itu telah sepadan dengan jumlah kegembiraan kita, terutama sebagai bangsa?"

Sumber : Catatan FB Prie GS.

GELOMBANG PENARIK 0 comments

Setiap pribadi adalah pancaran gelombang dan jenis gelombang itu bisa kita pilih dan tentukan. Siapa Anda terpancar dari siapa teman- teman Anda. Itulah kenapa semakin sukses seseorang ia akan semakin tambah sukses. Sukses yang satu akan menarik sukses berikutnya, begitu terus sampai tidak jelas batasnya. Kepercayaan satu akan menarik kepercayaan berikutnya. Semakin banyak orang mempercayai Anda akan semakin banyak lagi orang tergerak untuk percaya tanpa pernah repot-repot meyeleksi siapa Anda. 


Itulah kenapa pembeli lebih suka memasuki warung- warung yang laris walau harus berkerumun, berdesakan, menunggu dan antre. Sebagian toko malah menjadikan antrean itu bagian dari nilai jual mereka. Sebagian pembeli malah memaknai antrean mereka sebagia gaya. Itulah hasil ketika seseorang telah menyukai dan percaya kepada sebuah produk. Siapa penyebar virus percaya itu? Tak lain adalah rekomendasi antara satu dengan lainnya. Bisnis-bisnis besar tidak lahir dari negosiasi yang rumit. Cukup ketemu di dalam pesawat secara kebetulan lalu ngobrol dan lahirlah bisnis raksasa. 

Kepercayaan itu tak membutuhkan waktu lama dan prosedur yang kompleks. Kecepatannya nyaris serupa cahaya. Berkelebat lalu sampai. Sekarang persoalannya, denga cara apa seseorang agar berada di dalam kecepatan seperti itu? Caranya sebetulnya relatif sederhana, cukup dengan tertip memasuki tahapannya saja. Cukup menegakkan aturan-aturan dasar, yang para awam pun dengan mudah menjalani. Ujian awam pertama, setidaknya yang saya rasakan, adalah ujian pada penerimaan diri sendiri. Sejak akal saya mulai bekerja, rasanya mulai terasa apa yang ada pada diri sendiri hanyalah kekurangan senantiasa. Inilah pergolakan hidup yang paling berbahaya karena kepada segala sesuatu berisi prasangka buruk saja.

Inilah asalnya gelombang buruk. Itulah asal mulanya gelombang kepribadian seseorang dipancarkan. Seseorang dengan sudut pandang buruk, akan membuat seluruh isi dunia tampak buruk. Cukup dengan pusing kepala, seluruh dunia akan berputar tidak lagi pada porosnya, karena poros itu serasa pindah di kepala kita. Gelombang seperti ini jika tidak diwaspadai, tidak dicegah, tidak diperjuangkan, akan berlangsng sampai tua. Menjadi tua tanpa pernah menghentikan gelombang semacam ini adalah jenis hidup yang harus dihindari. Ada banyak sekali gelombang buruk masa kecil yang terbawa hingga tua tanpa kita menyadari . Ia menyelinap tenteram di ruangnya. Sementara umur kita menua, gelombang itu tetap dalam wataknya semula.

Di saat kecil saya suka iri kepada teman- teman yang lebih beruntung lalu tergerak membuat cerita buruk atasnya semata-mata karena keirian saya. Di masa tua saya bisa menghidupkan keirian serupa dalam bentuk yang agak berbeda. Yakni gelisah melihat teman lebih sukses dan menerbitkan cerita-cerita sirik tentang betapa tak layak ia sebetulnya berada di tempatnya, betapa buruk cara mencapai suksesnya.

Harap diteliti, seluruh naluri buruk yang mendestruksi kepribadian kita saat ini. Bisa jadi ialah hanyalah warisan naluri bawah sadar masa lalu yang belum menemukan penjinakan. Itulah pihak yang sering mengacaukan gelombang kita di hari ini yang mestinya terang benderang menjadi buram dan remang-remang.

Sumber : Catatan FB "Prie GS."